MAKALAH
TUMBUHAN PAKU PTERYDOPHYTA
MATAKULIAH : BOTANI CRYPTOGAMAE
OLEH :
DINDIN WAHYUDIN
NIM :2119120014
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS GALUH CIAMIS
2015
KATA PENGANTAR
Segala puji marilah kita panjatkan pada Allah SWT. Karna dengan
rahmatnya saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini. dan tak lupa juga saya
ucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
pembuatan makalah baik bantuan secara moril dan pikiranya.
Saya berharap makalah ini dapat memabah wawasan, pengetahuan dan
pengalaman bagi pembaca dan terutama pada saya selaku pembuat makalah.
Dengan keterbasan pengalaman dan pengetahuan saya dalam pembuatan
makalah ini jika ada kekurangan dan kesalahan mohon dimaafkan, saya sangat
menunggu kritikan dan saran yang membangaun pada diri saya untuk bisa lebih
baik lagi dalam pembuatan makalah ini.
Hormat saya,
KATA PENGANTAR
Segala puji marilah kita panjatkan pada Allah SWT. Karna dengan
rahmatnya saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini. dan tak lupa juga saya
ucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
pembuatan makalah baik bantuan secara moril dan pikiranya.
Saya berharap makalah ini dapat memabah wawasan, pengetahuan dan
pengalaman bagi pembaca dan terutama pada saya selaku pembuat makalah.
Dengan keterbasan pengalaman dan pengetahuan saya dalam pembuatan
makalah ini jika ada kekurangan dan kesalahan mohon dimaafkan, saya sangat
menunggu kritikan dan saran yang membangaun pada diri saya untuk bisa lebih
baik lagi dalam pembuatan makalah ini.
Hormat saya,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………………… I
DAFTAR ISI …………………………………………………………………. II
BAB 1 PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang ……………………………………………………….. 1
B.
Rumusan
masalah …………………………………………………….. 1
C.
Tujuan
…………………………………………………………………. 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Tumbuhan Paku …………………………………………… 2
B.
Ciri
–ciri Tumbuhan Paku …………………………………………….. 3
C.
Daur
Hidup Tumbuhan Paku …………………………………………. 8
D.
Manfaat
Tumbuhan Paku ……………………………………………… 11
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan ………………………………………………………….. 13
Daftra Pustaka ………………………………………………………………… 14
Daftar Gambar
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tumbuhan paku termasuk tumbuhan tertua di dunia karena
ditemukan sebagai fosil dalam batu berusia 420 juta tahun. Fosil tumbuhan paku
dari zaman Karbon, sekitar 360-268 juta tahun lalu, merupakan penyusun sebagian
besar batu bara. Tumbuhan paku merupakan tumbuhan darat yang telah memilki
akar, batang, dan daun sesungguhnya. Oleh karena itu, tumbuhan paku termasuk
kelompok Cormophyta berspora. Tumbuhan paku (Pteridophyta) digolongkan tumbuhan tingkat rendah, karena
meskipun tubuhnya sudah jelas memiliki kormus serta mempunyai sistem pembuluh
tetapi belum menghasilkan biji dan alat perkembangbiakan yang utama adalah spora.
Sebagai tumbuhan tingkat rendah,
Pteridophyta lebih maju daripada Bryophyta sebab sudah ada sistem pembuluh,
sporofitnya hidup bebas dan berumur panjang, sudah ada akar sejati, dan
sebagian sudah merupakan tumbuhan heterospor. Tumbuhan paku (Pteridophyta)
adalah divisi dari kingdom Plantae yang anggotanya memiliki akar, batang, dan
daun sejati, serta memiliki pembuluh pengangkut. Tumbuhan paku sering disebut
juga dengan kormofita berspora karena berkaitan dengan adanya akar, batang,
daun sejati, serta bereproduksi aseksual dengan spora. Tumbuhan paku juga
disebut sebagai tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta) karena memiliki pembuluh
pengangkut.
B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Tumbuhan
paku Pteridophyta?
2. Apa saja
ciri-ciri Tumbuhan paku Pteridophyta?
3. Bagaimana daur hidup dari Tumbuhan
paku Pteridophyta?
4. Apa manfaat dari Tumbuhan
paku Pteridophyta?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari Tumbuhan
paku Pteridophyta
2. Untuk
mengetahui ciri-ciri dari Tumbuhan paku Pteridophyta
3. Untuk
mengetahui daur hidup dari Tumbuhan paku Pteridophyta
4. Untuk
mengetahui manfaat
dari Tumbuhan
paku Pteridophyta
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tumbuhan paku (Pteridophyta)
Tumbuhan paku (Pteridophyta) adalah
divisi dari kingdom Plantae yang anggotanya memiliki akar, batang, dan daun
sejati, serta memiliki pembuluh pengangkut. Tumbuhan paku sering disebut juga
dengan kormofita berspora karena berkaitan dengan adanya akar, batang, daun
sejati, serta bereproduksi aseksual dengan spora. Tumbuhan paku juga disebut
sebagai tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta) karena memiliki pembuluh
pengangkut. Tumbuhan paku (Pteridophyta) digolongkan tumbuhan tingkat rendah, karena
meskipun tubuhnya sudah jelas memiliki kormus serta mempunyai sistem
pembuluh tetapi belum menghasilkan biji dan alat perkembangbiakan yang utama
adalah spora. Sebagai tumbuhan
tingkat rendah, Pteridophyta lebih maju dari pada Bryophyta sebab
sudah ada sistem pembuluh, sporofitnya hidup bebas dan berumur panjang, sudah
ada akar sejati, dan sebagian sudah merupakan tumbuhan heterospor.
Seperti pada Bryophyta, pada Pteridophyta
juga terdapat pergiliran keturunan yang menunjukkan adanya dua keturunan yang
bergiliran. Individu yang menghasilkan gamet (gametofit) merupakan
generasi yang haploid. Setelah terjadi fertilisasi akan terbentuk zigot yang
merupakan permulaan dari keturunan yang diploid. Kemudian dari sini terbentuk
individu yang diploid (sporofit) karena menghasilkan spora melalui
pembelahan reduksi. Spora inilah yang merupakan permulaan dari generasi
haploid. Dari spora akan terbentuk protalium
melalui perkecambahan spora. Divisi Pteridophyta terbagi menjadi 4
kelas, yaitu: Psilophyinae (paku purba), Lycopodinae (paku
kawat), Equisetinae (paku ekor kuda) dan Filicineae (paku
sejati).
Tumbuhan paku termasuk tumbuhan tertua di dunia karena
ditemukan sebagai fosil dalam batu berusia 420 juta tahun. Fosil tumbuhan paku
dari zaman Karbon, sekitar 360-268 juta tahun lalu, merupakan penyusun sebagian
besar batu bara. Tumbuhan paku merupakan tumbuhan darat yang sudah sempurna.
B. Ciri-ciri Tumbuhan paku (Pteridophyta)
1. Pterydophyta memiliki ciri-ciri struktur sebagai berikut :
a. Batang Pterydophyta
bercabang-cabang menggarpu atau membentuk cabang-cabang kesamping yang bukan
keluar dari ketiak daun.
b. Daun-daun
pada Pterydophyta yang tinggi tingkat perkembangannya memiliki
sifat-sifat yang sesuai dengan daun Spermatophyta.
c. Embrio sudah
dapat dibedakan adanya dua kutub, yaitu kutub atas yang akan berkembang menjadi
tunas dan kutub bawah yang disebut kutub akar. Kutub akar tidak terus
berkembang membentuk akar, karena akar tumbuhan paku bersifat endogen dan tumbuh kesamping dari
batang. Dengan demikian embrio Pterydophyta bersifat unipolar, akar yang keluar pertama tidak dominan dan segera
disusul oleh akar-akar lain yang muncul dari batang. Akar memiliki kaliptra.
d. Pertumbuhan
menebal sekunder karena kegiatan kambium belum ada.
e. Dalam akar,
batang, dan daun terdapat jaringan pengangkut, yang terdiri atas xylem dan floem.
f. Sporofit memiliki kormus yang sesungguhnya. Sporangium
dan spora terbentuk pada daun, kadang-kadang dalam ketiak atau ujung
tunas. Daun-daun yang mempunyai sporangium disebut sporofil, sedangkan daun-daun yang
steril disebut tropofil.
g. Sporangium memiliki lapisan-lapisan dinding yang menyelubungi
jaringan sporogen. Sel-sel sporogen membulat dan memisahkan diri
satu sama lain menjadi sel-sel induk spora. Masing-masing membelah
reduksi menghasilkan 4 spora haploid
yang dapat bergandengan tetraeder.
h. Lapisan
sel-sel yang mengandung banyak plasma dan berguna memberi makan pada sel-sel sporogen
dinamakan tapetum, terdapat
disekeliling jaringan sporogen.
i.
Spora memiliki tiga lapis dinding.
Berturut-turut dari luar ke dalam yaitu : perisporium, eksosporium,
dan endosporium.
2. Morfologi
Tumbuhan paku (pteridophyta)
Bentuk
tumbuhan paku bermacam-macam, ada yang berupa pohon (paku pohon, biasanya tidak bercabang), epifit, mengapung di air, hidrofit, tetapi
biasanya berupa terna dengan
rizoma yang menjalar di tanah atau humus dan ental yang menyangga daun dengan ukuran yang
bervariasi (sampai 6 m).
Ental yang
masih muda selalu menggulung (seperti gagang biola) dan menjadi satu ciri khas
tumbuhan paku..Sering dijumpai tumbuhan paku mendominasi vegetasi suatu tempat
sehingga membentuk belukar yang luas dan menekan tumbuhan yang lain.
3. Bagian-bagian
Tumbuhan paku (pteridophyta)
a. Akar
Akar paku bersiafat seperti akar serabut, berupa
rizoma. Ujung akar dilindungi dengan kaliptra yang terdiri atas sel – sel yang
dapat dibedakan dengan sel – sel akar sendiri. Pada titik tumbuh akar terdapa
sebuah se puncak berbetuk bidang empat yang memebelah ke empat arah menurut
bidang sisinya. Sei yang dibentuk karah luar akan menjadi kaliptra sedangkan
segi tiga arah lainyan akan menjadi sel akar sel – sel akar akan memebentuk
epidermis, korteks, silinder pusat.
Akar tumbuhan paku merupakan akar sesungguhnya
karena sel-sel akarnya sudah terdiferensiasi menjadi:
1.
Kuit luar (epidermis)
2.
Kulit dalam (korteks)
3.
Silinder pusat, terdapat buluh
pengangkut brupa xylem yan dikelilingi oleh floem.
b. Batang
Pada sebagian besar jenis paku, batangnya terdapat
di dalam tanah yang dinamakan ripang (rhizome). Jika muncul ke permukaan
tanah, batangnya sangat pendek sekitar 0.5 m. Namun, ada beberapa batang pohon
paku yang tingginya mencapai 5 m atau lebih, misalnya cyathea sp., Alsophilia
dan Cyathea. Pada batang, terdapat pembuluh pengangkut berupa xilem dikelilingi
floem.
c. Daun
Daun selalu melingkar dan menggulung pada usia muda. Macam-macam
daun pada Tumbuhan paku (pteridophyta)
1. Daun yang
kecil-kecil disebut Mikrofil
2. Daun yang
besar-besar disebut Makrofil dan telah mempunyai daging daun (Mesofil)
3. Daun yang khusus
untuk asimilasi disebut Tropofil
4. Daun yang
khusus menghasilkan spora disebut Sporofil.
Ukuran dan bentuk tubuh
Tumbuhan paku memiliki ukuran yang
bervariasi dari yang tingginya sekitar 2 cm, misalnya pada tumbuhan paku yang
hidup mengapung di air, sampai tumbuhan paku yang hidup di darat yang tingginya
mencapai 5 m misalnya paku tiang (Sphaeropteris). Tumbuhan paku purba
yang telah menjadi fosil diperkirakan ada yang mencapai tinggi 15 m. Bentuk
tumbuhan paku yang hidup saat ini bervariasi, ada yang berbentuk lembaran,
perdu atau pohon, dan ada yang seperti tanduk rusa.
Tumbuhan paku
terdiri dari dua generasi, yaitu generasi sporofit dan generasi gametofit.
Generasi sporofit dan generasi gametofit ini tumbuh bergantian dalam siklus
tumbuahan paku. Generasi sporofit adalah tumbuhan yang menghasilkan spora
sedangkan generasi gametofit adalah tumbuhan yang menghasilkan sel gamet (sel
kelamin). Pada tumbuhan paku, sporofit berukuran lebih besar dan generasi
hidupnya lebih lama dibandingkan generasi gametofit. Oleh karena itu, generasi
sporofit tumbuhan paku disebut generasi dominan. Generasi sporofit inilah yang
umumnya kita lihat sebagai tumbuhan paku.
Struktur
dan fungsi tubuh tumbuhan paku generasi sporofit.
Tumbuhan paku sporofit
pada umumnya memiliki akar, batang, dan daun sejati. Namun, ada beberapa jenis
yang tidak memiliki akar dan daun sejati. Batang tumbuhan paku ada yang tumbuh
di bawah tanah disebut rizom dan ada yang tumbuh di atas permukaan tanah.
Batang yang yang tumbuh di atas tanah ada yang bercabang menggarpu dan ada yang
lurus tidak bercabang. Tumbuhan paku yang tidak memilki akar sejati memilki
akar berupa rizoid yang terdapat pada rizom atau pangkal batang. Tumbuhan paku
ada yang berdaun kecil (mikrofil) dan ada yang berdaun besar (makrofil).
Tumbuhan paku yang berdaun kecil, daunnya berupa sisik. Daun tumbuhan paku
memiliki klorofil untuk fotosintesis. Klorofil tumbuhan paku yang tak berdaun
atau berdaun kecil terdapat pada batang.
Tumbuhan paku
sporofit memiliki sporangium yang menghasilkan spora. Pada jenis tumbuhan paku
sporofit yang tidak berdaun, sporangiumnya terletak di sepanjang batang. Pada
tumbuhan paku yang berdaun, sporangiumnya terletak pada daun yang fertil (sporofil).
Daun yang tidak mengandung sporangium disebut daun steril (tropofil).
Sporofil ada yang berupa helaian dan ada yang berbentuk strobilus. Strobilus
adalah gabungan beberapa sporofil yang membentuk struktur seperti kerucut pada
ujung cabang. Pada sporofil yang berbentuk helaian, sporangium berkelompok
membentuk sorus. Sorus dilindungi oleh suatu selaput yang disebut indisium.
Sebagian besar tumbuhan paku memiliki pembuluh pengangkut berupa floem dan
xilem. Floem adalah pembuluh pengangkut nutrien organik hasil fotosintesis.
Xilem adalah pembuluh pengangkut senyawa anorganik berupa air dan mineral dari
akar ke seluruh bagian tumbuhan. Spora yang menghasilkan sporofit akan tumbuh
membentuk struktur gametofit berbentuk hati yang disebut protalus atau
protaliaum.
Struktur
dan fungsi tubuh tumbuhan paku generasi gametofit.
Gametofit tumbuhan paku hanya berukuran beberapa milimeter. Sebagian besar tumbuhan
paku memiliki gametofit berbentuk hati yang disebut protalus. Protalus berupa
lembaran, memiliki rizoid pada bagian bawahnya, serta memiliki klorofil untuk
fotosintesis. Protalus hidup bebas tanpa
bergantung pada sporofit untuk kebutuhan nutrisinya. Gametofit jenis tumbuhan
paku tertentu tidak memilki klorofil sehingga tidak dapat berfotosintesis.
Makanan tumbuhan paku tanpa klorofil diperoleh dengan cara bersimbiosis dengan
jamur.
Gametofit memilki alat reproduksi seksual. Alat reproduksi jantan adalah anteridium.
Anteridium menghasilkan spermatozoid berflagelum. Alat reproduksi betina adalah
arkegonium. Arkegonium menghasilkan ovum. Gametofit tumbuhan paku jenis
tertentu memiliki dua jenis alat reproduksi pada satu individu. Gametofit
dengan dua jenis alat reproduksi disebut gametofit biseksual. Gametofit yang
hanya memiliki anteridium saja atau arkegonium saja disebut disebut gametofit
uniseksual. Gametofit biseksual dihasilkan oleh paku heterospora (paku yang
menghasilkan dua jenis spora yang berbeda).
Struktur
tubuh tumbuhan paku.
Daun paku tumbuh dari percabangan tulang daun yang disebut frond,
dan keseluruhan daun dalam satu tangkai daun disebut Pinna.
JIka diperhatikan pada permukaan bagian daun (frond) terdapat bentuk berupa
titik-titik hitam yang disebut sorus, dalam sorus terdapat kumpulan sporangia
yang merupakan tempat atau wadah dari spora. Gambar dibawah ini menunjukkan
sporangia yang tergabung dalam struktur sorus (jamak sori).
Gambar . Sporangia dalam struktur sorus
Tidak semua daun paku memiliki sorus
(sori), daun paku yang memiliki sorus merupakan daun fertil yang disebut
daun sporofil, daun paku yang tidak memiliki sorus disebut daun steril. Daun
ini hanya mengandung klorofil dan banyak dimanfaatkan untuk proses
fotosintesis. Daun ini disebut daun tropofil. Bagian luar dari sorus berbentuk
selaput tipis yang disebut indusium. Bagian dalam sorus terdapat kumpulan
sporangium yang didalamnya berisi ribuan spora.
Jika daun sporofil (daun
fertil) diletakkan di atas permukaan kertas polos, maka bentuk spora akan terlihat
seperti serbuk bedak berwarna hitam, coklat, kemerahan, kuning atau hijau
tergantung jenis tumbuhan pakunya. Masing-masing spora akan tumbuh menjadi paku
dewasa melalui proses yang komplek.
C. Daur hidup Tumbuhan paku
(Pteridophyta)
Tumbuhan
paku bereproduksi secara vegetatif dengan rizom. Rizom tumbuh menjalar ke
segala arah membentuk koloni-koloni tumbuhan paku. Tumbuhan paku mengalami
pergiliran keturunan atau metagenesis dengan dua generasi, yaitu generasi
sporofit dan generasi gametofit.
1. Generasi Saprofit
Generasi sporofit atau tumbuhan
penghasil spora adalah tumbuhan paku itu sendiri. Jadi, tumbuhan paku yang
biasa kita lihat itu merupakan tumbuhan dalam fase sporofit. Sporofit paku
berumur lebih lama di dapat banding gametofit. Sporofit dapat tumbuh lalu
bertunas sehingga jumlahnya bertambah banyak. Ini merupakan reproduksi secara
aseksual. Spora yang dihasilkan tumbuhan paku keluar dari sporangium dan
tersebar mengikuti arah angin. Jika spora ini jatuh di tempat lembab, akan
tumbuh menjadi tumbuhan baru yang dikenal sebagai protalium.
2. Generasi
Gametofit.
Merupakan tumbuhan penghasil
gamet. Generasi gametofit ditandai dengan adanya protalium yaitu tumbuhan paku
baru yang berbentuk seperti jantung, berwarna hijau, dan melekat pada substrat
dengan rizoidnya. Generasi gametofit tidak berlangsung lama karena biasanya
protaliumnya berukuran kecil dan tidak berumur panjang.
Di dalam protalium terdapat suatu
gametangium sehingga dapat membentuk anteridium yaitu alat kelamin jantan yang
akan menghasilkan sperma, dan arkegonium yaitu alat kelamin betina yang akan
menghasilkan sel telur. Jika terjadi pertemuan antara sperma dengan sel telur
maka akan terbentuk zigot dan akan tumbuh menjadi tumbuhan paku baru.
Berdasarkan jenis spora yang dihasilkan, tumbuhan paku dibedakan menjadi
tiga, yaitu
1. Paku
Homospora
Paku Homospora yaitu jenis tumbuhan paku yang menghasilkan satu jenis spora
yang sama besar. Contohnya adalah paku kawat (Lycopodium), Nephrolepis, Drymoglossum.
Skema pergiliran keturunan pada paku Homospora
2. Paku
Heterospora
Paku heterospora memproduksi dua
macam ukuran spora. Spora yang berukuran kecil dan berkelamin jantan disebut
mikrospora. Spora yang berukuran besar dan berkelamin betina disebut
makrospora. Contohnya : Selaginella (paku
rane) yang dapat dijadikan tanaman hias
dan Marsilea (semanggi) yang dapat
dimakan.
Nama
|
Gambar
|
Selaginella (paku
rane)
|
|
Marselia (
Semanggi)
|
Mikrospora
akan tumbuh menjadi mikroprotalium sedangkan makrospora akan tumbuh menjadi makroprotalium.
Mikropotalium membentuk mikrogametofit yang akan menghasilkan anteridium,
sedangkan makroprotalium membentuk makrogametofit yang akan menghasilkan
arkegonium. Anteridium menghasilkan sperma dan arkegonium menghasilkan ovum.
Fertilisasi antara sperma dan ovum menghasilkan zigot. Zigot akan tumbuh
menjadi tumbuhan paku yang akan menghasilkan spora, demikian seterusnya
Skema pergiliran
keturunan pada paku Heterospora
3. Paku
Peralihan
Spora pada paku peralihan yang
dihasilkan berukuran dan bentuk yang sma tetapi jenisnya berbeda. Protaliumnya
hanya menghasilkan anteridia dan arkegonia saja. Fase
gametofit paku lebih singkat dari pada sporofitnya. Alat kelamin berpa :
anteredium menghasilkan spermatozoit dan arkegonium menghasilkan sel telur.
Pembuahan sel telur oleh spermatozoit dibantu oleh air. Zigot yang dihasilkan
berkutup satu, sehingga akarnya tidak berkembang seperti tumbuhan biji. Bila
sporangium kering, anulus membuka dan spora-spora akan keluar. Spora jatuh
ditemapat yang lembab akan tumbuh menjadi protalium. Selanjutnya protalium akan
tumbuh menghasilan anteridium dan arkegonium. Dari perkawinan anatara rhizoid
dan ovum menghasilkan zigot.zigot tumbuh menjadi menjadi tumbuhan paku
(sporofit). Contoh tumbuhan paku peralihan
adalah paku ekor kuda (Equisetum).
Skema pergiliran keturunan pada paku
peralihan (campuran)
Spora paku
jatuh di tanah subur akan tumbuh menjadi protalium. Protalium memiliki rizoid
yang berfungsi untuk melekatkan diri pada tanah dan menghisap air serta
mineral. Protalium akan tumbuh menjadi gametofit yang menghasilkan anteridium
dan arkegonium. Anteridium menghasilkan spermatozoid sedangkan arkegonium
menghasilkan ovum. Karena protalium menghasilkan gamet, maka protalium
merupakan.
Generasi
gametofit. Setelah terjadi pembuahan pada ovum oleh spermatozoid, terbentuk
zigot. Zigot kemudian tumbuh menjadi tumbuhan paku. Daun-daun pada tumbuhan
paku akan menghasilkan spora, sehingga tumbuhan paku merupakan generasi
sporofit. Bila kotak spora pecah, spora-spora akan bertebaran dan jatuh. Spora
yang jatuh pada tempat yang sesuai akan tumbuh menjadi protalium kembali.
D. Manfaat Tumbuhan paku (pteridophyta)
Manfaat dari
tumbuhan paku antara lain :
1. Sebagai
tanaman hiasan : Platycerium nidus (paku tanduk rusa) yang
bentuknya seperti tanduk rusa dan sering ditanam dengan ditempelkan pada
pohon, Asplenium nidus (paku sarang burung), Adiantum
cuneatum (suplir), danSelaginella wildenowii (paku rane).
2. Sebagai
bahan penghasil obat-obatan : Asipidium filix-mas dan Lycopodium
clavatum.
3. Sebagai
sayuran : Marsilea crenata (semanggi) dan Salvinia
natans (paku sampan = kiambang). Beberapa tumbuhan paku ada yang
diambil daunnya yang masih muda untuk sayur.
4. Sebagai
pupuk hijau : Azolla pinnata yang hidup di sawah-sawah,
bersimbiosis dengan anabaena azollae (ganggang biru) yang
dapat mengikat N2bebas di udara menjadi senyawa
yang dapat diserap oleh tumbuhan lain. Dengan demikian, Azolla pinnata dapat
dijadikan pupuk hijau yang kaya nitrogen.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tumbuhan
paku (Pterydophyta) merupakan tumbuhan berkormus dan berpembuluh yang paling
sederhana. Terdapat lapisan pelindung sel di sekeliling organ reproduksi,
sistem transpor internal, hidup di tempat yang lembap. Akar serabut berupa
rizoma, ujung akar dilindungi kaliptra. Sel-sel akar membentuk epidermis,
korteks, dan silinder pusat (terdapat xilem dan floem). Beradasarkan bentuk dan
ukuran dan susunannya daun tumbuhan paku dibedakan menjadi mikrofil dan
makrofil. Berdasarkan fungsinya daun tumbuhan paku dibedakan menjadi tropofil
dan sporofil.
Tumbuhan
paku bereproduksi secara aseksual (vegetatif) dengan stolon yang menghasilkan
gemma (tunas). Gemma adalah anakan pada tulang daun atau kaki daun yang
mengandung spora. Reproduksi seksual (generatif) melalui pembentukan sel
kelamin jantan (gametangium jantan/anteridium) dan sel kelamin betina
(arkegonium). Seperti pada lumut tumbuhan paku juga mengalami pergiliran
keturunan (metagenesis). Metagenesis tersebut dibedakan antara paku homospora
dan heterospora.
DAFTAR
PUSTAKA
Dra. Pratiwi dan dkk. 2013 Biologi Untuk SAM/MA kls X
http://tra-lili.blogspot.com/2013/05/tumbuhan-paku-pteridophyta.html
http://putriemma.wordpress.com/2012/11/04/pteridophyta-dan-bryophyta/
http://delovta.blogspot.co.id/2015/03/makalah-paku.html
Jenis paku yang
termasuk paku yaitu :
Nama Tumbuhan Paku
|
Gambar tumbuhan paku
|
Semanggi (Marsilea crenata)
|
|
Paku Tanduk Rusa (Platycerium
bifurcatum)
|
|
Paku Sarang Burung (Asplenium
nidus)
|
|
Suplir (Adiantum cuneatum)
|
|
Paku sawah (Azolla pinnata)
|
|
Dicksonia antarctica
|
